Manusia dan Keadilan


Keadilan berasal dari bahasa arab “adl” yang artinya bersikap dan berlaku dalam keseimbangan.Keseimbangan meliputi keseimbangan antara hak dan kewajiban dan keserasian dengan sesama makhluk.Keadilan pada hakikatnya adalah  memperlakukan seseorang atau orang lain sesuai haknya atas kewajiban yang telah di lakukan.Yang menjadi hak setiap orang adalah di akui dan di perlakukan sesuai harkat dan mertabatnya yang sama derajatnya di mata Tuhan YME.Hak-hak manusia adalah hak-hak yang diperlukan manusia bagi kelangsungan hidupnya di dalam masyarakat.

Keadilan dalam kehidupan manusia adalah sangat prinsip dan di manapun tidak mengenal waktu dan tempat selalu di perjuangkan. Keadilan   adalah bagian dari hak asasi yang telah di miliki manusia sejak di lahirkan tanpa perbedaan.Manusia tidak dapat di pisahkan dari keadilan,karena dengan keadilanlah manusia dapat mempertahankan hidupnya.

Namun kita sering mendengar bahwa keadilan masih belum terealisasi dengan baik dalam kehidupan keluarga,bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.Contohnya masih banyak pekerja rumah tangga mendapat perlakuan tidak adil dari majikannya,seorang istri yang tidak mendapat hak yang seharusnya ia dapatkan dari suaminya,seorang anak yang tidak mendapat haknya dari orang tuanya,ataupun hak-hak warga negara yang belum terpenuhi seperti,hak untuk hidup layak,merdeka dari kemiskinan,hak mendapatkan pendidikan dan hak untuk menyatakan pendapat.

Terkadang manusia merasa bahwa hidup ini tidak adil,sebenarnya bukan hidupnya yang tidak adil melainkan lingkungan yang kurang memberikan rasa adil atau bahkan dirinya sendiri yang sulit untuk bersikap adil terhadap sesama.Kita dapat menuntut keadilan appabila kita sudah melaksanakan apa yang menjadi sebuah kewajiban,namun kita belum atau tidak mendapatkan hak atas apa yang telah kita kerjakan.

Didalam negara berkembang,masalah keadilan terasa sekali dalam proses pembangunan bangsanya.Salah satu wujud dari keadilan adalah bilamana pemerintah dan rakyatnya terdapat saling pengertian yang baik.Hal ini berkaitan dengan fungsi menciptakan keadilan bagi seluruh rakyatnya.Suatu negara dapat di katakan maju apabila seluruh rakyatnya sudah mendapatkan keadilan.

Manusia adalah bagian dari kedilan,manusia dapat menciptakan keadilan untuk dirinya maupun untuk orang lain.Sebagai manusia hendaknya kita dapat saling memberikan rasa keadilan.Menghargai hak maupun kewajiban adalah tonggak terciptanya keadilan.Maka dari itu mulailah untuk dapat bersikap adil bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain sejak dini,jangan kita menuntut hak apabila kita belum melaksanakan kewajiban.



 

Manusia dan Penderitaan


A.    PENGERTIAN PENDERITAAN
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.

Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun peranan individu Juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belurn tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.

Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “risiko” hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna agar manusia sadar untuk tidak memalingkan dariNya. Untuk itu pada urnumnya manusia telah diberikan tanda atau wangsit sebelumnya, hanya saja mampukah manusia menangkap atau tanggap terhadap peringatan yang diberikanNya? . Tanda atau wangsit demikian dapat berupa mimpi sebagai pemunculan rasa tidak sadar dari manusia waktu tidur, atau mengetahui melalui membaca koran tentang teIjadinya penderitaan. Kepada manusia sebagai homo religius Tuhan telah memberikannya

B. SIKSAAN
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rokhani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan.
iksaan yang sifatnya psikis misalnya kebimbangan, kesepian dan ketakutan.

1. Kebimbangan
Kebimbangan dialami oleh seseorang bila ia pada suatu saat tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Misalnya pada suatu saat apakah seseorang yang bimbang itu pergi atau tidak, siapakah dari kawannya yang akan dijadikan pacar tetapnya. Akibat dari kebimbangan seseorang berada dalam keadaan yang tidak menentu, sehingga ia merasa tersiksa dalam hidupnya saat itu. Bagi orang yang lemah berpikirnya, masalah kebimbangan Akan lama dialami, sehingga siksaan itu berkepanjangan.
2. Kesepian
Kesepian dialami oleh seseorang merupakan rasa sepi dalam dirinya sendiri atau jiwanya walaupun ia dalarn lingkungan orang ramai, Kesepian ini tidak boleh dicampur adukkan dengan keadaan sepi seperti yang dialami oleh petapa atau biarawan yang tinggalnya ditempat yang sepi. Tempat mereka memang sepi tetapi hati mereka tidak sepi. Kesepian juga merupakan salah satu wujud dari siksaan yang dapat dialami oleh seseorang. Seperti halnya kebimbangan, kesepian perlu cepat diatasi agar seseorang jangan terus menerus merasakan penderitaan batin.
3. Ketakutan
Ketakutan merupakan bentuk lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Bila rasa takut itu dibesar-besarkan yang tidak pada tempatnya, maka disebut sebagai phobia. Pada umumnya orang memiliki satu atau lebih phobia ringan seperti takut pada tikus, ular, serangga dan lain sebagainya. Tetapi pada sementara orang ketakutan itu sedemikian hebatnya sehingga sangat mengganggu. Seperti pada kesepian, ketakutan dapat juga timbul atau dialami seseorang walaupun lingkungannya ramai, sebab ketakutan merupakan hal yang sifatnya psikis.

Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, atau ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, mislanya anti kawain atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup, dan sebagainya. Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti. Misalnya sifat anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin paksa, dan lain-lain.
 

Manusia dan Keindahan


Keindahan
Keindahan, sering diutarakan kepada situasi tertentu, artik kata keindahan yaitu berasal dari kata indah,artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Keidahan identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, kedaerahan, selera mode, kedaerahan atau lokal.

Apakah keindahan Itu ?
Sebenarnya sulit bagi kita untuk menyatakan apakah keindahan itu. Keindahan itu suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya.
Menurut cakupannya orang harus membedakan keindahan sebagai suatu kualita abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Untuk pembedaan itu dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah “beauty” (keindahan) dan “the beautiful” (benda atau hal indah). Dalam pembatasan filsafat, kedua pengertian ini kadang-kaang dicampuradukkan saja. Disamping itu terdapat pula perbedaan menurut luasnya pengertian; yakni
1.       keindahan dalam arti luas
2.       keindahan dalam arti estetis murni
3.       keindahan dalam arti terbatas dalam pengertiannya dengan penglihatan
Keindahan alam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah, sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang indah, kebajikan yang indah. Orang Yunani dulu berbicara juga tentang buah pikiran yang indah dan adap kebiasaan yang indah. Tapi bangsa Yunani juga mengenal keindahan dalam arti estetis yang disebutnya “symetria” untuk keindahan berdasarkan penglihatan dan harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran. Jadi pengertian keindahan seluas-luasnya meliputi : keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan intelektual.

Nilai estetik.
Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang gie menjelaskan bahwa pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai sepertihalnya nilai moral, nilai ekonomik, nilai pendidikan dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segaa sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik. Nilai adalah suatu relaitas psikologis yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri. Nilai itu oleh orang dipercaya terdapa pada sesuatu benda sampai terbukti ketakbenarannya.
Apa sebab manusia menciptakan keindahan ?
1.       Tata nilai yang telah usang
2.       Kemerosotan zaman
3.       Penderitaan Manusia
4.       Keagungan Tuhan

Renungan
Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori antara lain : teori pengungkapan, teori metafisik dan teori psikologis.

Teori Pengungkapan.
Dalil teori ini ialah bahwa “arts is an expresition of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia) Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) Beliau antara lain menyatakan bahwa “Seni adalah pengungkapan pesan-pesan) expression adalah sama dengan intuition, dan intuisi adalah pegnetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentagn hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images).”
Seorang tokoh lainnya adalah Leo Tolstoi dia menegaskan bahwa kegiatan seni aalah memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yagn seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan berbagai gerak, garis, warna, suara dan bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang mengalami perasaan yang sama.
Teori Metafisik
Teori seni yang bercotak metafisik  merupakan salah satu contoh teori yang tertua, yakni berasal dari Platoyang karya-karyanya untuk sebagian membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dari teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengungkapkan suatu teori peniruan (imitation teori). Ini sesuai dengan metafisika Plato yang mendalikan adanya dunia ide pada tarat yang tertinggi sebgai realita Ilahi. Paa taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi. Dan karyu seni yang dibuat manusia adalah merupakan mimemis (tiruan) dari ralita duniawi.

Teori Psikologis
Para ahli estetik dalam abad modern menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seni tiu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang wujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Teori lain lagi yaitu teori permainan yang dikembangkan oleh Fredrick Schiller (1757 -1805) dan Herbert Spencer ( 1820 – 1903 ) menurut Schiller, asal seni  adalah dorongan batin untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam diri seseorang. Seni merupakan semacam permainan menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia berhubungan dengan adanya kelebihan energi yang harus dikeluarkan. Dalam teori penandaan (signification theory) memandang seni sebagai lambing atau tanda dari perasaan manusia.



 

IBU - AKU MENCINTAIMU


  ” Karena tidak ada kasih sayang yang sesungguhnya abadi dalam pikiran kita selain kasih sayang seorang ibu yang selalu kita ingat sampai kita berakhir nanti ” Agnes Davonar

Dalam hidup, kita memiliki banyak kasih sayang. Kasih sayang yang mungkin bagi sebagian orang hanya sesaat tapi bagi yang lain menjadi abadi selamanya. Seperti kisah ini, kisah kasih sayang seorang ibu yang aku harapkan pernah terjadi dalam pada hidup kalian tapi tidak kalian sia-siakan. Ingatlah, Kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah berhenti ia berikan dalam keadaan apapun. Semoga kisah ini menyadarkan kalian betapa penting arti ibu dalam hidup kalian.

Aku punya seorang ibu, dalam usia yang muda, ia melahirkanku karena pernikahannya yang muda. Ayah dan ibu hidup bahagia dan melahirkan aku yang manja dan serba hidup cukup. Sampai umurku 7 tahun, aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan. Untungnya aku pintar sehingga selalu menjadi juara kelas. Kata guruku sih, aku ini jenius sehingga walaupun tanpa belajar pun nilai ujian di kelasku selalu mendapatkan nilai A.

Kebahagiaan yang aku rasakan dan kemewahan yang aku rasakan semua tiba-tiba menjadi sirna ketika ayah mengalami kecelakaan. Ia meninggal dan meninggalkan hutang yang begitu besar. Aku tidak pernah siap miskin tapi tidak dengan ibu. Kami kehilangan rumah dan harus tinggal dirumah susun murah yang hanya memiliki satu ruangan dengan satu kamar. Ibu tau, aku pintar dan tidak seharusnya berhenti sekolah, karena penikahan yang muda dan ditentang keluarga akhirnya ibu terusir dari keluarganya. Sedangkan orang tua ayah, sudah tak ada siapapun yang mau membantu kehidupan kami.

Setelah menjual segala perhiasan yang ia miliki. Ibu memiliki ide untuk berjualan bakmi ayam. Saat itu umurku 13 tahun. Ia masih harus menanggung hutang-hutang ayah yang harus ia bayar.

“ ibu akan berjualan bakmi untuk membantu kehidupan kita. Angel bantu-bantu.. ibu ya?”

Aku terdiam dan rasanya tidak menyukai ide ibu.

“ ibu akan jualan bakmi dimana? Memangnya ibu bisa buat bakmi?” tanyaku.

“ Loh dulu nenek ibu kan dagang bakmi, jadi ibu tau resepnya. lalu mungkin ibu berdagang di depan jalan besar depan komplek. Disitu banyak orang yang kerja di pasar. Kali-kali saja laris. Sehingga kamu bisa tetap sekolah.”

“ aku gak mau.. aku malu. Ibu saja yang jualan, aku gak mau bantu..”

“ iya nak, kamu gak usah bantu ibu, kamu cukup belajar yang giat dan ibu yang nantinya akan bekerja..besok ibu akan pergi ke sekolah kamu untuk mencoba meminta beasiswa..”

Aku senang ibu tidak mengharapkan aku berjualan bersamanya. Apa jadinya kata orang tentangku. Ibu memiliki gerobak bakmi yang ia beli bekas dan setiap pagi ia akan mendorong gerobak itu ke lapak tempatnya berjualan lalu sepagi mungkin sebelum matahari terbit ia sudah tidak ada di rumah ketika aku bangun. Ia tidak pernah memintaku untuk berjualan tapi terkadang aku membantunya untuk sekedar memotong bawang putih dan hanya tugas-tugas mudah di dalam rumah yang terpenting aku tidak sudi ikut berdagang dengan ibu.

Teman-temanku, mungkin tau. Kalau ayahku telah meninggal. Tapi mereka tidak pernah tau kalau keluargaku jatuh miskin. Ibu berhasil mendapatkan beasiswa untukku sehingga aku tidak perlu membayar uang sekolah sampai aku lulus smp nanti. Tapi kehidupan sekolah yang aku rasakan berbeda dengan saat ayah ada dulu. Kini aku jarang sekali makan dikantin. Aku membawa bakmi buatan ibu setiap hari yang membuatku bosan, ketika teman-teman mengajakku makan. Aku selalu berkata.

“ aku lagi gak mau makan di kantin, gak mood” atau “ aku sedang diet” padahal aku tidak mempunyai uang.

Tapi, kalau aku lagi beruntung, bila seorang teman yang sedang ulang tahun, maka tanpa ragu aku akan membuang bakmi buatan ibuku dengan makanan kantin traktiran. Karena aku juga pintar, aku tau bagaimana memanfaatkan teman-temanku yang bodoh. Sekedar untuk membuatkan atau mengerjakan PR Sekolah, itu bisa membuatku memiliki uang saku. Ibu tidak akan memberikan uang jajan lebih padaku. Ia hanya menjatahku 5000 sehari dan bisa dibayangkan bagaimana aku hidup dengan uang sekecil itu.

Agar teman-temanku tidak pernah tau ibuku berjualan bakmi. Aku selalu menghindar saat melihat ibu berdagang di jalanan pasar. Aku mencari jarak yang lebih jauh untuk berputar sampai ke belakang jalan rumah susunku yang jelek. Karena daerah kumuh, tentu saja teman-temanku tidak akan selevel untuk menuju kesana. Kalaupun ingin mengerjakan tugas rumah. Ya aku menuju rumah mereka, setelah puas tidur di ranjang empuk sahabatku. Aku pulang dan menderita bersama kasur keras rumahku.

Ibu walau bekerja dari pagi hingga sore hari. Ia tidak pernah berhenti untuk bertanya tentang pekerjaan sekolahku. Ia tetap memperhatikan diriku dan entah mengapa sejak menjadi miskin seperti ini hubungan kami menjadi dingin, aku tetap berpendapat kematian ayah dikarenakan oleh ibu atas kesalahan ini. kalau saja saat itu, ia tidak meminta ayah menjemputnya di salon. Ayah tidak akan mengalami kecelakaan. Jadi sejak miskin seperti ini..  Aku hanya selalu menjawab sepatah kata ketika ia bertanya.

Kemiskinan kami berjalan sampai akhirnya aku duduk bangku sekolah menengah umum dan lulus dengan nilai yang baik sehingga mendapatkan beasiswa di sekolah sma favorit. Untuk membeli baju sekolah baru saja ibu tidak mampu karena masih harus membayar hutang ayah. Ia malah menerima sumbangan dari tetangga kami yang kebetulan sudah lulus sma dan memberikan pakaian itu padaku.

“ aku gak mau pakai baju bekas. Mending aku gak usah sekolah.”

“ angel, kamu harus paham keadaan kita. Pakailah baju ini untuk sekolah, untuk sementara sampai ibu bisa memberikan yang baru.”

“ dari dulu juga ibu selalu bilang ingin beli ini itu?, tapi ujung-ujungnya bohong. Kenapa sih bu? kita jadi semiskin ini, kalau ayah masih ada! Ia ga mungkin kasih aku baju bekas kayak gini” teriak aku kasar dan meninggalkan rumah.

“ angel mau kemana?”

“ mau cari angin. Bosen sama keadaan rumah yang miskin kayak gini!

Jika aku marah, ibu tidak akan marah padaku. Entah berapa banyak keluhan dan kemarahan yang aku lakukan untuknya. Yang aku tau, aku hanya ingin hidup kami seperti dulu. Tidak sesulit dan semiskin ini. Tuhan rasanya tidak pernah adil dengan hidupku, ia seperti mempermainkan aku.

Sekolah baruku ini lebih nyaman dengan keadaanku karena semua anak-anak di sekolahku anak baru yang tidak tau latar belakangku, walaupun sekolah ini masih khusus bagi mereka anak-anak mampu. Sebagian dari anak-anak di kelas mungkin menyukaiku tapi yang lainnya terkadang memandangku dengan aneh. Terkadang aku mendengar bisikan yang cukup membuat telingaku panas.

“ itu si Angel, orang tuanya mampu gak sih? kok bajunya dekil ya.. emangnya sekolah ini terima anak kayak gitu ya “kata Agnes kepada teman-temannya.

“ denger-denger sih dapat sekolah gini karena beasiswa” ujar teman agnes sengaja saat aku lewat.

Aku ingin marah mendengar mereka bergosip tapi aku lebih berpikir cerdik untuk tidak meladenin omongan mereka daripada apa yang mereka bicarakan semakin meluas karena aku tanggapi. Sepulang sekolah, aku menangis. Tidak terima dengan kata-kata temanku. Ibu kebetulan sedang pulang mengambil bakmi yang habis.

“ angel hari ini dagangan ibu habis loh,, ibu senang banget” kata ibu padaku dan ia tiba-tiba melihatku menangis.

“ kenapa kamu nangis..”

“ emang ibu peduli? Ibu mana peduli sama hidup aku”

“ kenapa bilang begitu..”

“ aku malu bu, semua orang ledekin baju dekil ini..aku gak mau sekolah lagi besok?”

Ibu hanya menghela nafas. Kemudian pergi setelah mengambil bakmi di kulkas. Ia menutup pintu dengan air mata. Ia berdagang tanpa semangat. Menghitung setiap uang yang ia dapatkan dari semangkok bakmi yang terjual. Menyisakan sebagian untuk modal besok. Ia bangun pagi sekali untuk membeli sayur dan kebutuhan berjualan bakmi. Bahkan aku rasa ia hanya tidur 3 jam untuk sehari-harinya. Wajahnya yang cantik dulu kini menjadi tidak terawat. Ia menjadi saat buruk dengan tambahan kantung hitam dibawah matanya.

Suatu malam saat aku tertidur, ibu pulang dengan keadaan pincang. Ia seperti kelelahan membawa barang barang belajaan dipasar. Ia mengelus ngelus kakinya. Aku memperhatikannya.

“ ibu kenapa?”

“ jatuh saat ke pasar. Licin. Sakit sekali.. rasanya terseleo besok ibu coba urut..”

“ kalau gitu gak usah lagi ke pasar. Uda tau licin dan jorok. Beli aja di supermarket”

“ kalau gak beli disana. Ibu ga ada untung angel, disana lebih murah..”

“ terserah ibu.”

“ besok bantu itu dorong grobak ya ke lapak..”

Aku tidak menjawab dan tertidur. Keesokan paginya, saat aku terbangun aku melihat ibu mendorong gelobak dengan kaki yang kesakitan. Aku ingin membantu tapi tiba-tiba ada agnes dan kawan-kawan yang sedang berjalan. Karena tidak ingin malu, aku pun memutuskan untuk langsung pergi ke sekolah. Saat di kelas. Agnes dan kawan-kawan menikmati bakmi. Bakmi yang aku tau itu ia beli dari ibuku.

“ bakminya enak ya?besok beli lagi yuk. Ada yang mau nitip?”

“ beli dimana sih? “ Tanya teman yang lain.

“ tuh di ibu pincang.. di depan jalan rumah susun pasar.”

Aku jadi was-was kalau sampai tau mereka membeli bakmi itu dari ibuku. Ketika pulang aku meminta ibu untuk tidak jualan besok. Tapi ibu menolak karena tidak memiliki alasan untuk itu. Aku marah dan memutuskan pergi dari rumah malam itu. Di jalan aku bertemu dengan seorang anak yang aku rasa tinggal di  rumah susun. Ia bernama Aji. Ia manawarkan aku botol aqua saat aku termenung di teras lantai rumah susun.

“ kok bengong, neh minum..” tawarnya dan aku terdiam.

“ masih di segel kok aman. Loe anaknya sini ya? Gua temannya tetangga loe. Kita satu sekolah kok, Cuma bedanya gua uda kelas 3 loe masih kelas 1, kebetulan gua lagi ke rumah saudara gua disini dan liat loe.. ”

Aku menerima minuman itu dan mulai merasa nyaman dengan aji.
“ namanya siapa kalau boleh tau. Kok malam-malam gini diteras rumah susun sendirian?””

“ angel, gua kalau lagi BT ya disini.. dan gua emang tinggal disini gak masalah kan?“

“ gak masalah lah? Emang kenapa kalau tinggal disini?”

“ kirain masalah..?”

“oh pasti ada masalah ya. Mau cerita?”

Aku tidak bercerita padanya tapi akhirnya memiliki sahabat baru yang bisa membuatku nyaman malam itu. Keesokan paginya. Aku duduk di kelas sambil mengerjakan tugas teman-teman sekolahku. Lumayan untuk membantu uang jajanku. Tiba-tiba agnes berada di kelas bersama teman-teman genknya,

“ ngomong-ngomong, di sekolah ini yang namanya angel itu ada berapa ya? Katanya ibu bakmi itu punya anak sekolah disini namanya angel loh.. “

“ ibu bakmi yang mana?”

“ ibu bakmi yang tadi pagi kita makan, yang pincang itu..”

“ atau jangan-jangan angel yang ibu pincang itu maksud si..” kata mereka meliriku.
Aku langsung meninggalkan kelas. Apa jadinya hidupku kalau anak-anak satu sekolah ini tau kalau aku anak pedagang bakmi. Saat aku di taman, aji tiba-tiba muncul.

“ kenapa sih setiap gua ketemu loe. Loe itu mukanya kok bt selalu?”

“ gua agak sebel sama teman-teman di kelas, suka banget gossip.. jadi ga mood aja”

“ gosiipin loe..?”..” begitulah..” jawabku.

“ cuekin aja kalau gossip aja mah.. namanya gossip kan ga tentu benar. Bawa asyik aja. Eh ngomong-ngomong, kalau mau pulang sekolah nonton gimana?”

“ hm…?” kataku ragu. “ gua traktir.. tenang aja”

Dan akhirnya pulang sekolah kami pun berangkat nonton. Rasanya kehadiran aji membuat aku lebih memiliki banyak hal yang baik. Ia membuat aku merasa lebih dihargai kebanding teman-temanku yang norak dan hobbynya bergosip. Aku pulang ke rumah dan saat itu ibu melihatku bersama aji saat ia menurunkan aku dari motornya. Ia mendekatiku.

“ siapa angel?”

“ tante aku aji, teman sekolah Angel..” kata aji.

“oh iya, aku ibu angel..” kata ibu dan aku hanya terdiam,

“ kalian lapar? Kalau lapar bisa makan bakmi di tempat dagang tante…” kata ibu dan aku terkejut marah

“ aku gak lapar. Aku mau pulang aja..”

“ tante dagang bakmi..?” Tanya aji pada ibu.

“ ia dekat depan sini, ayo dicoba siapa tau bisa promosi ke teman-teman..”

“ apa-apaan sih ibu. “ kataku dan  meninggalkan mereka berdua.
Aji dan ibu hanya saling menatap.

“ maafin ya, si angel sifatnya agak gampang marah, kalau kamu gak sempat makan bakmi buatan tante bisa besok atau kapan-kapan saja..”

“ iya tante..”

Aku merasa marah karena ibu menawarkan bakmi kepada aji. Seharusnya aji tidak perlu tau ibu berdagang bakmi. Aku tidak bicara seharian dengan ibu aku jadi bingung bagaimana sekarang menghadapi aji yang pasti bertanya-tanya tentang ibuku.
Keesokan paginya sebelum sekolah, Agnes dan kawan-kawan sudah muncul di lapak bakmi ibu.

“ ibu aku mau Tanya. Anak ibu yang sekolah ditempat kami itu. Angel yang anak kelas 1 kan, itu yang mana sih orangnya?”

“ oh.. anak ibu yang tinggi dan rambutnya panjang. Tunggu sebentar. Di dompet ada fotonya..siapa tau kalian kenal.”

Lalu ibu menunjukkan foto aku dan agnes bersama kawan-kawannya langsung mendapatkan berita headlines yang luar biasa membahagiakan. Mereka langsung ke sekolah. Saat itu aku membaca komik yang aku pinjam dari temanku Hendra, ia bertubuh gemuk dan sedikit bodoh tapi menjadi sahabat baik yang selalu banyak membantuku dikelas. Saat bel berbunyi. Guru sekolahku belum masuk, tiba-tiba agnes langsung berdiri dikelas.

“ teman-teman ada pengumumanan neh..” teriak agnes.

Mereka semua langsung menatap agnes dan aku pun begitu.
“ dengerin neh ye pada.. kalau semua disini suka bakmi. Yang mau beli bakmi enak dan yang biasa gua makan sama teman-teman bisa pesan ke gua. Bakminya enak loh. Kalau kalian mau.. order di gue aja. Cuma 10.000 semangkok..lumayan itung-itung bantu ibu itu, kasihan pincang dan anaknya juga kayaknya butuh biaya buat sekolah…”

Sepertinya anak-anak sangat tertarik dengan bakmi itu. Guru sekolah masuk. Agnes pun duduk dengan senyum-senyum puas menatapku. Saat istirahat sekolah tiba-tiba ia mendekatiku.

“ ngel, neh pesanan bakmi.. kasih ke nyokap loe..”

“ apa-apaan sih loe..”

Mereka saling menatap dan tiba-tiba tertawa sambil meledekku.
“ kok loe pura-pura bego gitu sih, bukannya ibu pincang yang jualan bakmi itu nyokap loe. Tadi pagi dia cerita ke kita-kita kok. Malah minta bantuan promoin bakmi dia.. kita-kita kan baik. Akhirnya bakmi nyokap loe gua promosiin dan pesanan banyak.. nek kasih ke nyokap loe. Niat baik kok ditolak..” kata agnes sambil memberikan kertas padaku.
Aku mengambilnya dan merobek lalu melempar kepadanya.

“ loe gak usah cari gara-gara ya..berengsek” kata agnes dan kami pun berkelahi.
Setelah dipisahkan agnes berteriak-teriak menghinaku dengan wajahnya yang lebam begitu pula aku.

“ dasar loe orang miskin gak tau diuntung, uda bagus gua bantu jualarin bakmi emak loe.. sekali miskin tetap miskin!!”

Aku pulang dengan perasaan marah. Mengapa ibu tega melakukan ini dan mempermalukan aku. Saat itu aku menangis dirumah. Ibu sedang berdagang , ketika ia berjalan mengantar mangkok ke pelanggan tiba-tiba ia terjatuh karena kakinya kesakitan. Pembeli itu mendekati ibu.

“ ibu kenapa kakinya gak di urut aja sih atau bawa ke dokter..”

“ gapapa, ini entar juga sembuh sendiri.. “

Hari ini ibu pulang lebih pagi dari berdagang. Seorang pelanggan mendekat
“ kok pagi amet tutupnya, padahal saya mau makan?”

“ iya neh, anak saya ulang tahun.. saya mau ke pasar beli baju buat dia..”

Ibu sengaja menahan rasa sakit itu bukan karena ia tidak ingin pergi ke tukang urut untuk mengobatinya. Tapi ia memiliki alasan lain karena ia ingin memberikan aku hadiah, hadiah sebuah pakaian seragam sekolah baru untukku. Ia tampak puas dengan barang belajaan yang ia beli. Saat itu pulang dengan gembira  dan tiba-tiba terkejut melihat wajahku yang lebam.

“ kamu kenapa bisa kayak gini? Kamu jatuh kenapa angel?”

“ ibu mau tau kenapa? Semua gara-gara ibu, buat apa ibu minta agnes untuk bantuin jualan bakmi di sekolah, ibu gak tau semua orang jadi tau aku anaknya tukang jual bakmi pincang itu!!”

Tiba-tiba ibu menamparku dan itulah tamparan pertama dia dalam hidupku. Aku marah dan pergi dari rumah berlari diatas hujan lebat. Ibu menangis dan terduduk di kursi meja makan dengan wajah lesuh. Aku tidak tau harus berlari kemana dan tanpa arah. Aku hanya terduduk dan terdiam diantara hujan dan menangis. Merasa hidup ini tidak pernah adil, mengapa aku harus mengalami kemiskinan. Aku tertidur di halte bus. Dan saat aku bangun hujan telah hilang. Jam 11 malam saat itu.

Aku berjalan pulang dan tiba-tiba seorang tetangga memberitahu aku kalau ibu terjatuh dari tangga. Kini ibu sedang dirawat dirumah sakit. Aku terkejut dan langsung menuju rumah sakit. Melihat ibu dengan keadaan kakinya penuh bebat. Ia patah kaki karena terjatuh dari tangga.

“ kenapa ibu bisa sampai begini?” tanyaku.

“ ibu ingin turun dan cari kamu tiba-tiba ibu terjatuh dari tangga, ibu minta maaf sudah menampar kamu..”

Aku terdiam dan berusaha melupakan masalah itu. Dokter kemudian memeriksanya dan ia berkata padaku ibu  harus menginap beberapa hari.

“ kata dokter ibu gak boleh pulang dulu, ibu harus di rawat disini. “

“ tapi biaya rumah sakit mahal, kita mana mampu angel..”

“ mana aku tau.. siapa suruh ibu jadi begini. Angel mau pulang dulu. Ngantuk dan besok harus sekolah.”

Kataku kesal walaupun merasa kasihan terhadap ibu tapi harga diriku terlalu tinggi untuk menunjukan rasa peduliku pada ibu. Saat aku pulang tiba-tiba aku melihat, kue ulang tahun kecil dan baju seragam sekolah baru. Saat itulah aku sadar, ibu menyiapkan ulang tahunku hari ini. aku terlalu sibuk karena stres memikirkan masalah sekolah sampai tidak sadar. Seragam baru itu membuatku sedikit bisa pamer besok di sekolah. Ingin aku mengucapkan terima kasih pada ibu tapi sayang ia tidak ada rumah. Minimal besok, aku bisa katakan itu bila aku ingat!!

Ibu bisa keluar rumah sakit tiga hari kemudian dengan biaya uang yang sangat banyak dan menghabiskan tabungan. Untuk sementara ia tidak berdagang bakmi dan itu bisa membuatku selamat dari gosip agnes yang sedang gencar2nya meledekku dengan anak tukang bakmi. Walau tanpa penghasilan, tapi aku bisa bertahan dengan uang tips mengerjakan pr teman-teman sekelas. Aku tidak lagi butuh uang jajan dari ibu.

2 bulan kemudian ibu sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat. Suatu malam aku tidak mampu bangkit dari tempat tidur dan Tubuhku panas dingin. Ibu cemas dan membawaku ke dokter. Ternyata aku terjangkit virus demam berdarah dan masuk fase kritis. Biaya yang sangat besar membuat ibu sangat bingung dengan keadaannya yang tidak lagi berdagang bakmi. Tanpa memikirkan biaya ibu memaksakan aku dirawat. Saat itu ia hanya terdiam lemas menatapku tak berdaya. Dan dirumah sakit itu ada seorang suami yang menangis karena istrinya sekarat. Ia membutuhkan ginjal untuk istrinya. Tapi tidak ada donor yang bersedia untuk menolong kelangsungan istrinya. Ibu mendekat dan tiba-tiba ia menawarkan dirinya. Orang itu menawarkan sejumlah uang pada ibu. Demi aku, ibu pun rela menyumbangkan satu ginjalnya.

Berkat ginjal yang ibu sumbangkan aku bertahan hidup Karena ibu langsung memindahkan aku ke perawatan yang terbaik di rumah sakit itu.  Saat aku sembuh beberapa hari kemudian, aku tidak melihat ibu. Aku hanya melihat Aji datang bersama Hendra sahabatku. Sampai akhirnya aku keluar rumah sakit beberapa hari kemudian. Tidak ada yang menjemputku, mereka bilang ibu sedang keluar kota untuk bertemu dengan keluarganya meminta bantuan uang. Padahal yang aku tau biaya rumah sakit telah terlunasi. Ibu sengaja bilang ia keluar kota agar ia tidak tau kalau ia dalam masa perawatan.

Tapi aku salah dan semakin menyadari kehilangan ibu. Sudah dua minggu aku tidak melihat ibu dan akhirnya seorang tetangga memberitahu aku kalau ibu dirawat dirumah sakit yang sama dengan anaknya sebab mereka tidak sengaja melihart ibu. Aku langsung menuju rumah sakit. Ibu tergelatak lemas di tempat tidur. Ia melihatku dengan air mata.

“ kenapa ibu bisa dirawat disini? Ibu sakit apa?”

“ ibu gapapa, sebentar lagi juga bisa keluar..”

“ ibu katakan pada angel, ibu kenapa.. jujurlah ibu..”

“ ibu gapapa nak.. ibu Cuma sakit..”

Aku tidak memaksa ibu untuk jujur lagi karena ia seperti kesakitan menahan perutnya. Malam itu aku menjaganya. Tiba-tiba ibu mengajakku bicara. Aku jadi ingat seragam sekolah dulu.

“ ibu.. terima kasih baju sekolahnya.. angel belum sempat bilang kemarin..”

“ iya nak, sama-sama. Angel maafkan ibu, bukan ibu selama ini tidak ingin membahagikan kamu. Ibu tau kamu marah karena kematian ayahmu. Ibu sudah berusaha untuk sebisa ibu membahagiakan kamu seperti saat-saat kita dulu bersama ayah. Tapi ibu gagal, ibu hanya bisa membuat kamu marah. Ibu benar-benar menyesal, maafkan ibu“

“ kenapa ibu bicara seperti ini, sudah tidak usah dibahas. Angel juga gak pernah berpikir begitu”

“ ibu, bukanlah ibu yang baik. Sampai tidak mampu membelikan kamu celana dalam ketika kamu dewasa bahkan tidak tau bagaimana harus membelikan kamu baju baru, ibu menahan rasa sakit di kaki ibu hanya untuk mengumpulkan uang agar kamu mendapatkan pakaian yang layak, tapi sebanyak apapun ibu bekerja, hutang yang ayah kamu tinggalkan tidak pernah habis.. bahkan hingga detik ini.” kata ibu menangis

“ sudah bu.. jangan teruskan.. angel minta maaf. Angel ga pernah ngerti perasaan itu. Angel egois dan tidak terima pada kenyataan kalau kita memang sudah bukan yang dulu..” kataku memeluk ibu yang menangis.

“ ibu hanya berharap. Ibu bisa mengubah keadaan seperti dulu lagi.. Cuma itu nak..”

Malam itu, aku baru tau betapa besar pengorbanan ibu padaku, rasa egois yang membuatku sadar bahwa aku begitu durhaka tak pernah menghargai pengorbanan yang ia lakukan. Aku memeluk ibu dan berjanji dalam hatiku ketika ia sembuh, aku akan membahagiakan dia dengan cara apapun. Ibu tidak semakin baik dari hari ke hari. Sampai akhirnya, ia meninggal malam setelah memelukku. Aku menangis kehilangan ibu dalam hidupku.

Dokter mengatakan ibu tidak mengalami hal baik setelah mendonorkan satu ginjalnya. Hal yang membuatku begitu pilu dan sedih, ibu melakukan semua itu untuk membuat hidupku terus ada. Ia rela menjual ginjalnya agar hutang ayah terlunasi. Agar masa depanku terjamin dengan uang donor itu tapi ia sendiri harus pergi dengan keadaan tanpa pernah melihatku dewasa seperti impiannya.

Hal terakhir yang ia katakan padaku, membuatku begitu berat untuk melupakan semua kebaikannya.
“ bagaimanapun ibu marah padamu, kemarahan ibu adalah kasih sayang. Tidak ada ibu yang akan marah tanpa alasan kepada anaknya. Kelak ketika kamu menjadi ibu,kamu akan mengerti, ibu di dunia manapun selalu ingin anaknya bahagia. Walau dengan kemarahan caranya..”

Andai saja ada penyesalan dan waktu yang berulang, aku tidak akan pernah melakukan kebodohan terbesar dalam hidupku menyia-yiakan pengorbanan ibu.

Tapi waktu adalah tempat yang kejam bagi mereka yang tidak pernah bisa menghargainya, seperti aku yang hanya bisa menangis menatap waktu-waktu indah yang seharusnya aku gunakan bersama ibu tapi kini hanya bisa terkenang dalam kenangan.
Semoga kisah ini bisa mengajarkan kita untuk mengerti

Kasih ibu mungkin tidak akan sempurna bagi hidup kita. Tapi kasih ibu adalah kasih tanpa balasan yang tidak akan pernah tergantikan dengan kesempurnaan hidup apapun di dunia ini.
tamat


 

Kisah Nyata seorang teman, semoga menjadi inspirasi untuk para istri dan suami


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. 
Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. 
Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. 
Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. 
Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. 
Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. 

Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. 
Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. 
Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. 
Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. 
Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. 

Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. 

Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. 
Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. 

Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. 
Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. 
Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. 
Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. 
Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. 
Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. 
Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. 
Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. 
Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. 
Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. 
Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. 
Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. 
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. 
Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. 
Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. 
Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. 
Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. 

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. 
Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. 
Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. 
Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. 
Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. 
Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. 
Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. 
Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. 

Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. 
Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. 
Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. 
Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. 
Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. 
Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. 
Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. 
Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. 
Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. 

Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. 
Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. 
Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. 
Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. 
Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. 

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. 
Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. 
Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. 
Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. 
Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. 
Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. 
Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. 
Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. 
Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. 
Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. 
Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. 
Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. 
Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. 
Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. 
Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. 

Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. 
Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

sumber  :  kaskus atau klik di sini